
Mitos Safety Riding yang Justru Berbahaya – Kesadaran akan keselamatan berkendara atau safety riding semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kampanye edukasi dari berbagai pihak, termasuk kepolisian dan komunitas otomotif, terus digalakkan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas. Namun di tengah upaya tersebut, masih beredar sejumlah mitos yang justru dapat membahayakan pengendara jika dipercaya mentah-mentah.
Memahami perbedaan antara fakta dan mitos menjadi langkah penting agar keselamatan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diterapkan secara tepat.
Mitos 1: Berkendara Pelan Pasti Selalu Aman
Banyak orang percaya bahwa semakin pelan berkendara, semakin aman. Pada dasarnya, mengurangi kecepatan memang menurunkan risiko kecelakaan. Namun berkendara terlalu lambat di jalur cepat atau tidak mengikuti arus lalu lintas juga bisa memicu tabrakan dari belakang.
Keselamatan bukan hanya soal pelan, tetapi soal menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan, cuaca, dan aturan yang berlaku. Undang-undang lalu lintas yang diatur oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia juga menekankan pentingnya disiplin lajur dan kepatuhan terhadap batas kecepatan minimum maupun maksimum.
Mitos 2: Helm Setengah Sudah Cukup untuk Semua Kondisi
Helm adalah perlengkapan wajib bagi pengendara sepeda motor. Namun tidak semua helm memberikan tingkat perlindungan yang sama. Helm half-face atau helm proyek sering dianggap cukup untuk perjalanan jarak dekat.
Padahal, helm full-face umumnya memberikan perlindungan lebih maksimal pada area dagu dan wajah saat terjadi benturan. Standar keselamatan seperti yang dikeluarkan oleh United Nations melalui kampanye keselamatan jalan global menekankan pentingnya penggunaan perlengkapan pelindung yang sesuai standar keselamatan internasional.
Memilih helm bersertifikasi dan sesuai ukuran kepala jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi kewajiban formal.
Mitos 3: Pengendara Berpengalaman Tidak Butuh Perlengkapan Lengkap
Pengalaman memang meningkatkan kemampuan membaca situasi jalan. Namun kecelakaan tidak selalu terjadi karena kesalahan pengendara sendiri. Faktor lain seperti kelalaian pengguna jalan lain, kondisi jalan rusak, atau cuaca ekstrem bisa terjadi kapan saja.
Banyak kecelakaan fatal terjadi pada pengendara yang sudah berpengalaman karena terlalu percaya diri dan mengabaikan perlengkapan keselamatan seperti jaket pelindung, sarung tangan, atau sepatu tertutup.
Mitos 4: Motor dengan Fitur Canggih Pasti Lebih Aman
Teknologi seperti ABS (Anti-lock Braking System) dan traction control memang meningkatkan keselamatan. Namun fitur ini bukan jaminan mutlak. Tanpa teknik pengereman yang benar dan kewaspadaan penuh, risiko kecelakaan tetap ada.
Teknologi hanya alat bantu. Faktor utama tetap pada perilaku pengendara, termasuk menjaga jarak aman dan fokus selama berkendara.
Mitos 5: Jalanan Sepi Berarti Bebas Risiko
Banyak pengendara merasa lebih santai di jalanan sepi dan cenderung meningkatkan kecepatan atau kurang waspada. Padahal, risiko tetap ada, seperti hewan melintas, kendaraan keluar tiba-tiba dari gang, atau kondisi jalan yang tidak terlihat jelas pada malam hari.
Kecelakaan sering terjadi bukan di jalan ramai, tetapi di situasi yang membuat pengendara lengah.
Pentingnya Edukasi yang Tepat
Keselamatan berkendara harus didasarkan pada pengetahuan yang benar, bukan asumsi turun-temurun. Program edukasi safety riding yang komprehensif membantu membangun kesadaran bahwa keselamatan adalah kombinasi antara perlengkapan, teknik, dan sikap mental.
Mengoreksi mitos yang keliru menjadi bagian penting dalam menciptakan budaya berlalu lintas yang lebih aman dan bertanggung jawab.
Kesimpulan
Mitos safety riding yang beredar di masyarakat dapat menimbulkan rasa aman yang semu. Berkendara pelan tanpa mengikuti arus, menggunakan helm seadanya, atau terlalu percaya pada pengalaman dan teknologi justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Keselamatan sejati lahir dari pemahaman yang benar, kedisiplinan, serta konsistensi dalam menerapkan prinsip berkendara yang aman. Dengan membuang mitos yang menyesatkan, setiap pengendara dapat berkontribusi pada terciptanya lalu lintas yang lebih tertib dan aman bagi semua.